Sunday, October 2, 2016

Pengertian dan Jenis – Jenis Danau yang ada di Indonesia

Pengertian dan Jenis – Jenis Danau yang ada di Indonesia  

Pengertian dan jenis-jenis danau yang ada di Indonesia. Air sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup untuk bertahan hidup. Sumber mata air yang terdapat di bumi ini sangat beragam jenisnya seperti samudera, sungai, laut, danau, mata air dan sebagainya. Tetapi pada artikel kali ini kita akan membahas tentang danau. Jika kita mendengar istilah danau pasti yang terbayang di pikiran kita adalah air yang sangat banyak. Bentuknya juga seperti kolam raksasa. Danau tidak hanya terdapat di luar Negeri saja melainkan Indonesia juga mempunyai danau. Di Indonesia, danau memiliki ukuran yang bervariasi dari yang kecil, sedang hingga besar. Nah untuk lebih jelasnya tentang danau, simaklah artikel ini hingga selesai.

Pengertian Danau

Sebelum membahas danau lebih jauh, kita terlebih dahulu mengetahui tentang pengertian danau. Danau merupakan sebuah cekungan yang digenangi oleh air tawar dalam jumlah yang cukup banyak dan luas yang mengelilingi daratan. Air yang terdapat di danau dapat berasal dari mata air, air tanah, air sungai yang bermuara di danau atau dapat juga berasal dari air hujan. Sumber-sumber air sangat penting untuk mengisi dan memberikan suplai air pada danau. Ciri-ciri danau antara lain :
  • Memiliki air yang cukup dalam
  • Ada beberapa tumbuhan air yang dapat menutupi sebagian tepi danau
  • Terdapat gelombang kecil yang ada di permukaan danau
  • Memiliki permukaan yang lebih tinggi dari pada permukaan air laut

Jenis-Jenis Danau

Danau sebagai tempat penampung air terbesar dan danau memiliki banyak macam tidak hanya satu saja. Jenis-jenis danau dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu danau menurut proses pembuatannya dan danau menurut proses terjadinya.

1. Danau Menurut Proses Pembuatannya

Menurut proses pembuatannya, danau dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
  • Danau alami, merupakan danau yang dapat terbentuk secara alami tanpa ada campur tangan manusia. Contohnya Danau Toba di Sumatera
  • Danau buatan, merupakan danau yang dibuat dengan campur tangan manusia. Danau buatan sering disebut dengan waduk. Danau buatan atau waduk dibuat dengan tujuan tertentu, seperti irigasi, penanggulangan banjir, pembangkit listrik, perikanan dan transportasi. Contohnya Waduk Karangkates, Waduk Jati Luhur dan Waduk Kedungombo
2. Danau Menurut Proses Terjadinya

Menurut proses terjadinya, danau dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
  • Danau Tektonik, merupakan danau yang terbentuk karena tenaga tektonik. Tenaga tektonik sendiri merupakan sebuah tenaga yang berasal dari dalam bumi atau tenaga endogen yang dapat menyebabkan tergesernya kulit bumi sehingga dapat menimbulkan cekungan di permukaan kulit bumi. Sehingga lama kelamaan cekungan tersebut akan terisi oleh air dan terbentuklah sebuah danau. Contohnya adalah Danau Poso, Danau Tondano, Danau Maninjau dan Danau Singkarak.
  • Danau Vulkanik, merupakan danau yang terbentuk karena letusan gunung berapi. Tanah bekas letusan akan membentuk cekungan sehingga lama kelamaan akan terisi oleh air dan terbentuklah sebuah danau. Contohnya adalah Danau Srangan di Jawa Timur, Danau Batur di Bali, Danau Kaliputu di Flores dan Danau Kerinci di Sumatera Barat.
  • Danau Vulkanik - Tektonik, merupakan danau yang dapat terbentuk karena proses vulkanik dan tektonik yang terjadi secara bersama-sama. Pada saat gunung berapi meletus, sebagian tanah atau batuan akan menutupi gunung patah dan merosot membentuk cekungan. Sehingga lama kelamaan cekungan tersebut terisi oleh air dan terbentuklah sebuah danau. Contohnya adalah Danau Toba dan Danau Ranau. 
  • Danau Sungai Mati atau Oxbow Lake, merupakan danau yang terjadi karena adanya aliran sungai yang terputus. Hal tersebut diakibatkan adanya proses pembelokan arah aliran. Umumnya, danau sungai mati terbentuk di bagian hilir sungai. Contohnya adalah Danau di sungai Barito yang terdapat di Pulau Kalimantan.
  • Danau Bendungan, merupakan danau yang dapat terbentuk karena aliran air yang membendung baik terjadi secara alami maupun oleh manusia. Danau yang terbentuk karena terbendung oleh manusia dapat disebut dengan waduk atau bendungan. Contohnya adalah Waduk Gajah Mungkur dan Bendungan Riam Kanan di Kalimantan. 
  • Danau Karst, merupakan danau yang dapat terbentuk karena pelapukan batuan kapur. Pada daerah sekitar karst atau kapur banyak dijumpai cekungan-cekungan dan cekungan tersebut berasal dari pipa-pipa karst yang bertambah lebar akibat pelapukan kimiawi. Proses pembentukan cekungan menjadi tambah lebar dapat disebut dengan Dolina. Apabila dolina tersebut tertutup oleh lempeng halus dan menjadi kedap air maka pada saat musim penghujan dolina tersebut akan tersisi oleh air sehingga terbentuklah danau. Contohnya adalah Uvala Benda bede di Gunung Kidul Yogyakarta. 

Demikianlah artikel tentang pengertian dan jenis-jenis danau yang ada di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Selamat membaca…

Thursday, September 29, 2016

[Artikel Lengkap] Berbagai Macam Jenis Rawa

[Artikel Lengkap] Berbagai Macam Jenis Rawa


Berbagai macam jenis rawa. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang rawa. Istilah rawa tidak asing lagi di telinga kita bahkan ada sebagian dari kita sudah ada yang pernah melihatnya. Rawa merupakan dataran rendah yang tergenang oleh air baik berasal dari air hujan, air tanah maupun dari aliran air permukaan yang menggumpal. Rawa sendiri memiliki banyak jenisnya dan ukurannya pun berbeda-beda, ada yang berukuran kecil maupun yang berukuran sangat besar. Rawa mengandung air sama halnya dengan danau maupun sungai yang sama-sama mengandung air tetapi ada sedikit perbedaan yang dimiliki rawa. Selain tergenang air, rawa juga bertanah lumpur dengan kadar air relatif lebih tinggi. Nah, untuk lebih jelasnya tentang rawa simaklah artikel ini hingga selesai.

Ciri-Ciri Rawa

Rawa memiliki bentuk yang hampir sama dengan danau dan sungai, tetapi rawa memilki ciri-ciri yang dapat membedakannya dengan danau dan sungai. Ciri-ciri rawa di antaranya :

  1. Umumnya air rawa bersifat asam
  2. Air rawa memiliki warna merah
  3. Air rawa kurang baik jika digunakan untuk mengairi tanaman
  4. Pada bagian dasar rawa terdapat gambut yang sangat banyak

Manfaat Rawa

Sebenarnya rawa memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya rawa pantai dapat dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan tambak dan untuk pengairan persawahan pasang surut. Rawa dimanfaatkan sebagai tempat pembudidaya berbagai jenis ikan tertentu. Rawa dapat dimanfaatkan sebagai tempat pengendalian banjir, contohnya jika wilayah perkotaan mengalami banjir maka air dapat dialirkan menuju rawa sehingga dapat mengurangi masalah banjir. Daerah rawa juga bermanfaat untuk dijadikan tempat wisata. Rawa juga sebagai sumber pembangkit listrik. Dalam memanfaatkan daerah rawa-rawa yang cukup luas, pemerintah mencoba untuk menjadikan lokasi pemukiman serta lahan pertanian bagi transmigran.

Macam-Macam Rawa

1. Dilihat dari Genangan Airnya

Dilihat dari genangan airnya, rawa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

a. Rawa yang airnya selalu tergenang

Tanah yang selalu tergenang air pada daerah rawa tidak dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian sebab lahan atau tanahnya tertutup oleh gambut yang sangat tebal. Rawa yang airnya selalu tergenang memiliki air yang bersifat sangat asam sehingga tidak ada satupun organisme yang dapat hidup di rawa ini.

b. Rawa yang airnya tidak selalu tergenang

Rawa yang airnya tidak selalu tergenang ini dapat menampung air tawar yang berasal dari limpahan air sungai pada saat air laut pasang. Ketika air laut surut, airnya relatif mengering sehingga airnya selalu mengalami pergantian. Keasaman tanah yang dimiliki juga tidak terlalu tinggi sehingga dapat digunakan untuk areal sawah.

2. Dilihat dari Kandungan Airnya

Dilihat dari kandungan airnya, rawa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :

a. Rawa air tawar

Rawa air tawar ini airnya tidak mengalami pergerakan. Rawa jenis ini biasanya  berada di hutan-hutan yang lokasinya dekat dengan aliran sungai. Umumnya, air rawa ini bersifat asam sebab banyak sisa-sisa makhluk hidup yang telah membusuk.

b. Rawa air asin

Rawa air asin ini airnya dapat mengalami pergerakan sehingga dapat tergantikan. Biasanya rawa ini berada di wilayah dekat pantai. Air rawa ini bersifat tidak terlalu asam.

c. Rawa air payau

Rawa air payau ini merupakan rawa yang berisi campuran antara air tawar dan air asin. Biasanya rawa jenis ini berada di dekat muara sungai. Airnya dapat mengalami pergerakan sehingga dapat tergantikan. Air rawa ini bersifat tidak terlalu asam.

3. Dilihat dari Kondisi Air dan Tumbuh-Tumbuhan yang Hidup

Dilihat dari kondisi air dan tumbuh-tumbuhan yang hidup, rawa dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu :

a. Rawa swamp

Rawa swamp merupakan lahan basah yang selalu digenangi oleh air dengan berbagai jenis tumbuhan yang hidup seperti lumut, rumput-rumputan, semak-semak dan tumbuhan jenis pohon.

b. Rawa marsh

Rawa marsh merupakan lahan basah yang sama seperti rawa swamp tetapi tumbuhannya didominasi oleh jenis lumut-lumutan, rumput-rumputan serta alang-alang.

c. Rawa bog

Rawa bog merupakan lahan basah yang permukaan tanahnya relatif kering tetapi lahan bagian dalamnya penuh air atau bersifat basah dan jenuh air. Genangan yang dangkal hanya dapat terlihat di beberapa tempat.

d. Rawa pasang surut

Rawa pasang surut merupakan rawa yang memiliki jumlah kandungan airnya selalu berubah-ubah atau pasang surut dikarenakan adanya pengaruh pasang surutnya air laut. Tumbuhan yang dapat hidup subur di rawa ini adalah tumbuhan bakau.

Demikianlah artikel tentang berbagai macam jenis rawa. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Selamat membaca..

Sunday, September 25, 2016

[Artikel Lengkap] Mengenal Proses dan Macam-Macam Hujan

[Artikel Lengkap] Mengenal Proses dan Macam-Macam Hujan


Mengenal proses dan macam-macam hujan. Hujan sangat familiar di telinga kita bahkan terjadi secara langsung di lingkungan sekitar kita. Hujan merupakan peristiwa jatuhnya titik air ke permukaan bumi dalam bentuk cair maupun padat (semula berupa air di udara). Hujan dapat terjadi pada bulan-bulan tertentu. Nah, kehadiran atau turunnya hujan ini sangat dinanti-nanti oleh semua makhluk hidup apalagi jika pada musim kemarau karena hujan penting bagi kehidupan makhluk hidup. Hujan yang turun ke bumi dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi kehidupan makhluk hidup. Dampak positifnya yaitu makhluk hidup tidak akan kekurangan air atau kekeringan, tanaman pertanian seperti padi dapat ditanam dan tumbuh subur, hujan juga dapat membuat udara lebih segar dan sejuk. Sedangkan dampak negatifnya yaitu jika hujan terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan erosi tanah. Sehingga dampak negatif hujan sangat merugikan semua makhluk hidup. Jika bencana alam terjadi, tidak hanya tumbuhan dan hewan saja yang dapat mati manusia juga dapat menjadi korban jiwa. Nah, untuk lebih mengenal tentang hujan simaklah artikel ini hingga selesai.


Proses Terjadinya Hujan

Proses Daur Air
Proses Daur Air
Sebelum kita membahas lebih dalam, kita bahas dulu proses terjadinya hujan. Hujan dapat terjadi akibat adanya cahaya matahari yang merupakan sumber energi panas terbesar di bumi. Energi panas dari matahari tersebut dapat membuat air permukaan bumi seperti sungai, danau, rawa dan lautan akan menguap. Ketika air tersebut naik ke udara maka uap air akan mendingin dan berubah kembali menjadi butiran-butiran air. Selanjutnya, butiran-butiran air tersebut akan membentuk awan. Jika awan semakin ke atas maka suhu udara makin rendah sehingga awan akan mengembun. Dari proses tersebut maka terjadilah kumpulan titik-titik air di langit. Jika titik-titik air tersebut jatuh ke bumi maka terjadilah hujan. Air hujan yang telah turun sebagian dapat diserap oleh tanah dan sebagian lagi kembali mengalir ke laut. Proses perputaran air tersebut dapat disebut dengan daur air.

Macam - Macam Hujan

Hujan dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain :

1. Berdasarkan Bentuk Curah Hujannya

Berdasarkan bentuk curah hujannya, hujan dapat dibedakan menjadi empat yaitu :
  • Hujan gerimis (drizzle), mempunyai ukuran diameter antara 0,5 - 0,4 mm
  • Hujan salju (snow), dapat terjadi karena sublimasi uap air berada pada temperatur di bawah titik beku. Hujan ini dapat terjadi jika tempat terjadinya awan sampai dengan permukaan tanah mempunyai temperature <0C 
  • Hujan es (hail stone), terdiri dari bongkahan-bongkahan es yang mempunyai diameter 5 - 50 mm yang berasal dari awan Cumulunimbus
  • Hujan deras (rain), curahan air yang turun dari awan yang mempunyai temperature di atas titik beku dengan diameter kurang lebih 7 mm. 

2. Berdasarkan Proses Terjadinya

Berdasarkan proses terjadinya, hujan dapat dibedakan menjadi empat yaitu :

1. Hujan Konveksi (Hujan Zenital)

Hujan Zenital
Hujan Zenital
Hujan konveksi (hujan zenital) dapat terjadi karena massa udara yang banyak mengandung uap air akan naik ke atas secara vertikal atau angin mendorong ke atas. Proses tersebut dapat menyebabkan penurunan suhu, sehingga dapat terjadi proses kondensasi atau pengembunan serta membentuk awan konveksi. Air yang telah mengumpul tadi akan sampai pada titik jenuhnya akibatnya turunlah hujan. Letak turun hujan berada di atas garis khayal ekuator atau khatulistiwa, oleh karena itu peristiwa tersebut dinamakan hujan konveksi (hujan zenital). Biasanya hujan jenis ini dapat terjadi pada daerah tropis seperti iklim di Indonesia.

2. Hujan Orografis

Hujan Orografis
Hujan Orografis
Hujan orografis merupakan hujan yang terjadi karena adanya angin yang mengandung uap air dengan arah pergerakannya secara horizontal. Pergerakan angin harus melewati pegunungan sehingga suhu angin menjadi dingin akibat adanya proses kondensasi. Kemudian membentuk titik-titik air yang mengendap sehingga menyebabkan terjadinya hujan pada lereng gunung yang menghadap ke arah datangnya angin tersebut. Proses itulah yang dinamakan hujan orografis.

3. Hujan Frontal

Hujan Frontal
Hujan Frontal
Hujan frontal merupakan hujan yang terjadi dari awan yang terbentuk karena pertemuan massa udara yang panas dan massa udara dingin serta banyak terjadi pada lintang pertengahan. Massa udara panas yang kurang padat akan naik ke atas, sedangkan massa udara dingin yang lebih padat akan turun ke bawah. Tempat pertemuan antara kedua massa tersebut dinamakan bidang front. Hujan dapat terjadi di daerah front karena massa udara panas yang lembab akan bertemu dengan massa udara dingin sehingga terjadi kondensasi yang kemudian akan membentuk awan dan terjadilah hujan.

4. Hujan Muson (Hujan Musiman)

Hujan Muson
Hujan Muson
Hujan muson merupakan hujan yang terjadi karena adanya angin muson atau angin musiman. Hujan ini dapat terjadi dalam kurun waktu tertentu, sehingga menyebabkan musim kemarau dan musim penghujan. Negara Indonesia sering mengalami angin muson yang terjadi pada bulan Oktober hingga Maret. Sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi hujan atau musim penghujan. Sedangkan pada bulan April hingga September, Indonesia mengalami angin muson sehingga jarang terjadi hujan atau musim kemarau.

Demikianlah artikel tentang mengenal proses dan macam-macam hujan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

[Artikel Lengkap] Berbagai Macam Jenis Kabut

[Artikel Lengkap] Berbagai Macam Jenis Kabut


Berbagai macam jenis kabut. Jika kita tinggal di daerah pegunungan atau daerah yang tinggi pasti pernah melihat kabut. Biasanya kabut muncul pada daerah yang memiliki suhu udara dingin. Kabut merupakan awan rendah yang berada di atas permukaan bumi. Jika dilihat sepintas bentuk kabut hampir sama dengan awan. Kalau awan tidak menyentuh permukaan bumi dan berada di atas, sedangkan kabut menyentuh permukaan bumi. Kabut dapat terbentuk karena adanya pertemuan antara udara panas yang lembab dengan udara dingin. Udara pada suatu daerah dengan suhu 30 0C memiliki kandungan uap air sebanyak 30 gr per m3 sehingga udara tersebut mengandung jumlah maksimum uap air yang dapat ditahannya. Namun, ketika suhu udara tersebut turun dan jumlah uap air melewati batas jumlah maksimum uap air yang ditahannya maka uap air tersebut akan berubah menjadi embun. Secara umum, kabut dapat hilang sendirinya jika suhu udara meningkat dan kemampuan udara dalam hal menahan uap air bertambah. Nah, langsung saja kita bahas lebih dalam tentang jenis-jenis kabut.

Jenis-Jenis Kabut

Sebenarnya jenis kabut tidak hanya satu saja melainkan mempunyai banyak jenis. Jenis-jenis kabut tersebut antara lain :

1. Kabut Sawah

Kabut sawah merupakan kabut yang sering terjadi pada malam atau pagi hari dengan cuaca yang terang serta udara dingin melalui sungai, sawah atau selokan. Sehingga air akan berubah menjadi suhu yang lebih panas. Ketika suhu udara naik serta kesanggupan memuat air bertambah terjadilah penguapan. Namun setelah udara sampai di tempat atau daratan yang lebih tinggi maka udara tersebut akan mendingin serta mengalami kondensasi sehingga membentuk kabut. 

2. Kabut Adveksi

Kabut adveksi merupakan kabut yang terjadi akibat adanya gerakan udara yang panas dan lembab menuju ke atas permukaan yang dingin. Udara yang telah didinginkan dari bawah dan inverse permukaan membentuk pendinginan lebih lanjut pada lapisan tersebut maka dapat menurunkan suhu udara hingga di bawah titik embun. Proses-proses diatas dapat menghasilkan sebuah kabut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kabut jenis ini, antara lain :
  • Adanya perbedaan suhu yang sangat mencolok antara udara yang bergerak dengan permukaan
  • Udara yang bergerak bersifat panas dn lembab
  • Kecepatan angin sedang agar perbedaan suhu dapat dipertahankan dan percampuran turbulensi tidak cukup kuat mengangkat kabut
3. Kabut Gunung

Kabut gunung merupakan kabut yang terbentuk ketika uap air bergerak menuju ke atas melewati lereng-lereng gunung. Udara dingin akan terus bergerak ke atas gunung hingga tak sanggup menahan uap air. Udara dingin yang terdapat pada ketinggian tertentu akan mengkondensasi sehingga terbentuk kabut yang dapat terjadi di sepanjang lereng gunung. 

4. Kabut Industri

Kabut industri merupakan kabut yang mempunyai warna kehitaman yang dapat terjadi di atas kota industri. Kabut jenis ini biasanya disebabkan oleh kumpulan asap-asap pabrik. Jika hal tersebut sering terjadi maka jumlah inti kondensasi akan bertambah banyak sehingga udara yang mengandung uap air akan membentuk menjadi kabut. 

5. Kabut Percampuran

Kabut percampuran merupakan kabut yang dapat terjadi jika udara lembab panas bertemu dengan udara lembab dingin, sehingga percampuran pada daerah pertemuan dapat menghasilkan penjenuhan dan kondensasi. 

6. Kabut Radiasi

Kabut radiasi merupakan kabut yang terjadi jika udara lembab bersinggungan dengan permukaan tanah yang lebih dingin yang diakibatkan oleh radiasi bumi pada malam hari. Satu lapis kabut dapat terbentuk di seluruh permukaan tanah yang terjadi secara bertahap sehingga lama kelamaan akan bertambah menjadi tebal. Biasanya kabut radiasi ini dapat muncul di lembah-lembah yang dalam. 

Demikianlah artikel tentang berbagai macam jenis kabut. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Selamat membaca..


Jenis-Jenis Erosi Tanah dan Dampaknya Bagi Kehidupan

Jenis-Jenis Erosi Tanah dan Dampaknya Bagi Kehidupan


Jenis-jenis erosi tanah dan dampaknya bagi kehidupan. Dalam dunia geografi, kata “Erosi Tanah” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Erosi merupakan pengikisan permukaan bumi oleh tenaga yang melibatkan pengangkatan berbagai benda-benda, misalnya air mengalir, es, angin serta gelombang atau arus. Umumnya, erosi dapat terjadi pada daerah atau tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Sedangkan tanah merupakan bagian dari alam yang bebas dan menduduki sebagian besar lapisan atas permukaan bumi. Jadi, erosi tanah merupakan proses geologis yang mana partikel tanah akan terpisah dan diangkut oleh berbagai agen-agen erosi, seperti air, angin, gletser dan gravitasi. Ternyata di bumi ini jenis erosi tanah sangat beragam. Nah, untuk lebih jelasnya tentang jenis-jenis erosi tanah simaklah penjelasanan di bawah ini.

Jenis-Jenis Erosi Tanah

Lapisan tanah atas memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, tetapi setelah terkena erosi tanah maka tanah tersebut tingkat kesuburannya akan berkurang. Tanah yang terkena erosi akan menyebabkan tanah menjadi terkikis dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Dalam hal erosi terdapat tenaga pengangkut dari material hasil pelapukan, antara lain :

a. Erosi oleh tenaga air

Air memiliki kekuatan mengikis lebih dalam dan besar untuk menghancurkan batu-batuan. Pengikisan tersebut dinamakan korasi. Ada berbagai macam erosi yang disebabkan oleh tenaga air, antara lain :
  1. Erosi gelombang air laut (abrasi). Pengikisan atau pelepasan batuan pantai yang diterjang oleh gelombang air laut terus menerus baik terjadi pada pantai curam maupun landai. Pada pantai curam akan membentuk gua-gua pantai dan cliff berdinding curam akibat deburan ombak. Sedangkan pada panta landai banyak sawah, tambak yang lenyap akibat diterjang oleh gelombang air laut.
  2. Erosi tanah bagian atas. Pengikisan serta pengangkutan lapisan permukaan tanah oleh air yang mengalir sehingga menyebabkan butiran tanah dan unsur-unsur hara pada tanah mengakibatkan tanah menjadi tandus. 
  3. Erosi alur (riil erotion). Erosi yang terjadi karena terbentuknya alur-alur yang sangat memanjang di sepanjang permukaan tanah oleh aliran air. Kedalaman alur tersebut kurang lebih 50 cm.
  4. Erosi parit (gully erotion). Aliran air yang melebar dan mengikis lereng serta membuat alur-alur yang sangat dalam sehingga membentuk parit atau dapat juga membentuk huruf V atau U yang mempunyai kedalaman mencapai 50 sampai 300 cm. 
  5. Erosi tebing (stream bank erotion). Erosi tebing ini terjadi karena adanya pengikisan pada dinding sungai sehingga menyebabkan lembah sungai semakin melebar. Umumnya, erosi jenis ini terjadi di daerah hilir sungai. Erosi ini juga disebut dengan erosi saluran (channel erotion).
  6. Erosi percikan (splash erotion). Erosi ini terjadi karena terlepasnya partikel tanah yang disebabkan oleh tetesan air hujan. Hal tersebut dapat menyebabkan batuan yang terkena air hujan akan menjadi lapuk dan akhirnya hancur
b. Erosi tanah oleh tenaga angin

Biasanya erosi angin terjadi pada daerah atau tempat yang kering. Besarnya tekanan dapat mempengaruhi kecepatan atau kencangnya angin. Angin bergerak untuk menggesek-gesek batuan sehingga lama kelamaan batuan induknya terkikis dan diangkut oleh angin. Proses pengikisan oleh angin dapat disebut deflasi. Contohnya adalah struktur yang terbentuk secara alami oleh erosi angin yaitu batu jamur yang dapat ditemukan di padang pasir.

c. Erosi oleh gletser

Erosi oleh gletser dapat terjadi karena adanya pengikisan es pada daerah kutub atau pegunungan bersalju. Es yang terdapat di daerah tinggi akan mencair dan menuruni lereng karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi, sehingga menyebabkan terkikisnya batuan yang telah dilaluinya.

d. Erosi oleh gerak massa batuan

Batuan yang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara besar-besaran dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya pengaruh gravitasi, pengaruh tempat (dari tempat tinggi menuju ke tempat yang rendah), kandungan air serta jenis batuan. Perpindahan batuan secara besar-besaran dapat disebut dengan mass wasting, yang dapat dibedakan menjadi tiga macam antara lain :

1. Slow flowage, merupakan perpindahan massa batuan yang berjalan sangat lambat
2. Rapit flowage, merupakan perpindahan massa batuan yang berlangsung secara cepat. Jenis ini dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu :
  • Earth flow yaitu gerakan massa tanah yang jenuh air
  • Mud flow yaitu gerakan massa lumpur
  • Debris avalanches yaitu massa tanah dan puing-puing batuan dapat meluncur dengan cepat pada lereng curam dan sempit
3.Landslide, merupakan turunnya massa larutan sepanjang lereng yang sangat terjal. Jenis ini dapat dibagi menjadi enam macam yaitu :
  • Rock slide yaitu batuan besar menuruni lereng
  • Debris slide yaitu puing-puing batuan yang longsor
  • Rock fall yaitu runtuhnya massa batuan secara vertikal
  • Debris fall yaitu runtuhnya massa batuan karena hancur
  • Slumping yaitu tanah longsor yang terputus-putus
  • Subsidence yaitu massa batuan yang tenggelam

Dampak Erosi Terhadap Kehidupan

Erosi tanah dapat menyebabkan pengembangan struktur topologi baru dikarenakan pengendapan partikel tanah sehingga tanah menjadi lebih lapuk dan produktivitas serta kesuburan tanah menjadi berkurang. Jika hal tersebut terjadi maka kadar air serta mineral otomatis akan berkurang dan aktivitas pertanian pada lahan akan sulit dilakukan. Akibat erosi yang sudah parah dapat menyebabkan lahan atau tanah menjadi tandus karena tidak adanya curah hujan sehingga mengalami kekeringan. Selain berdampak pada lahan pertanian, erosi juga dapat berdampak pada manusia. Tanah longsor termasuk salah satu erosi tanah yang dapat memakan korban jiwa.

Usaha Mengurangi Erosi Tanah

Untuk mengurangi erosi yang ada di sekitar lingkungan kita dapat dilakukan berbagai cara, antara lain :
  • Melindungi serta menjaga pengikisan atau erosi
  • Melakukan kegiatan reboisasi yaitu penanaman kembali lahan-lahan yang telah gundul akibat eksploitasi yang dilakukan secara besar-besaran dan tidak bertanggung jawab
  • Mengatur sistem drainase atau saluran yang baik untuk mengatur sirkulasi air
  • Melakukan terasering yaitu pola bercocok tanam dengan sistem bertingkat (berteras-teras) guna mencegah terjadinya erosi tanah
  • Selalu menjaga dari pencemaran atau polusi tanah
  • Mengganti jenis tanaman yang bertujuan untuk menghindari penyerapan unsur hara tanah secara terus menerus oleh tanaman yang sama 

Demikianlah artikel tentang jenis-jenis erosi tanah dan dampaknya bagi kehidupan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Wednesday, September 21, 2016

[Artikel Lengkap] Proses Pembentukan Tanah

[Artikel Lengkap] Proses Pembentukan Tanah


Proses pembentukan tanah. Telah kita ketahui bahwa bumi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu lautan dan daratan. Kali ini kita akan membahas tentang daratan yaitu berupa tanah. Tanah merupakan bagian kerak bumi yang tersusun atas campuran mineral berupa batuan yang telah lapuk dengan bahan organik yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang telah mati dan terurai. Bahan organik sangat dibutuhkan oleh tanah sebab dapat berpengaruh terhadap sifat tanah dan juga pertumbuhan tanaman. Pengaruh bahan organik tersebut antara lain :
  • Memperbaiki struktur tanah
  • Sumber unsur hara
  • Mampu menahan air
  • Sumber energi bagi organisme
  • Kemampuan menahan unsur hara (tanah topsoil yaitu tanah yang banyak mengandung humus atau bahan organik)
Tanah sangat penting bagi makhluk hidup yaitu sebagai pijakan dalam melangkah. Tanah tidak dapat terbentuk sendiri secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa proses sehingga dapat menjadi tanah yang sempurna. Dalam proses pembentukan tanah dibutuhkan waktu yang sangat lama bahkan hingga ribuan tahun. Nah, untuk lebih jelasnya simaklah artikel dibawah ini.

Proses Pembentukan Tanah

Pada mulanya bentuk tanah yaitu berupa batuan-batuan yang sangat besar, sehingga harus diubah menjadi butiran-butiran tanah yang lebih kecil agar dapat digunakan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup terutama tumbuhan. Secara umum, proses pembentukan tanah dapat dibedakan menjadi empat tahap antara lain :

1. Proses Pelapukan

Batuan yang berada di permukaan bumi lama kelamaan akan mengalami pelapukan yang menjadi remahan-remahan kecil. Walaupun begitu proses pelapukan tanpa mengubah susunan kimiawi dari batuan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pelapukan yaitu sinar matahari, perubahan suhu yang ekstrim dan juga hujan. Proses pelapukan dapat dibedakan menjadi tiga jenis, antara lain :
  1. Pelapukan Fisik (alterasi), merupakan proses pemecahan dan pelembutan batuan tanpa mengalami perubahan susunan kimia sehingga kandungan mineralnya tetap sama atau dapat dikatakan tidak ada pembentukan mineral baru. Pelapukan fisik ini dipengaruhi oleh perubahan iklim dan cuaca yang sangat ekstrim. 
  2. Pelapukan Kimia, merupakan proses pelapukan dan penguraian pecahan-pecahan batuan dan mineral-mineral ke dalam unsur penyusunnya atau dapat disebut dengan pembentukan mineral-mineral baru. Pelapukan kimia ini dipengaruhi oleh hujan asam yang selalu dan sering terjadi di awal proses pembentukan bumi
  3. Pelapukan Biologis, merupakan sebuah proses yang pada umumnya tidak terjadi pada awal proses pembentukan tanah. Pelapukan biologis dapat terjadi secara terus menerus tetapi setelah tanah terbentuk dan siap digunakan oleh makhluk hidup. Pelapukan jenis ini dapat dikatakan sebagai pelapukan penyempurna dari sifat-sifat tanah yang akan terbentuk
2. Proses Pelunakan

Proses selanjutnya yaitu pelunakan. Batuan-batuan kecil yang telah terbentuk dari proses pelapukan kemudian akan mengalami pelunakan. Dalam proses ini dibantu oleh air dan udara yang akan masuk dan merembes ke dalam sela-sela batuan tersebut. Calon makhluk hidup dalam proses pelunakan sudah mulai dapat tumbuh diatas permukaan batuan karena sudah terdapat air dan udara yang dibutuhkan untuk hidup. Walaupun begitu hanya sedikit saja organisme dapat hidup dan berkembang, contohnya lumut dan mikroba.

3. Proses Penumbuhan

Pada proses ketiga ini, batuan sudah mulai ditumbuhi oleh tumbuhan perintis yang berupa rumput dan tumbuhan kecil. Akar-akar pada tumbuhan tersebut akan masuk ke dalam batuan yang telah menjadi lunak sehingga dapat memecah batuan tersebut. Air yang membawa asam humus juga akan menyebabkan terjadinya pelapukan pada batuan tersebut. Sehingga batuan yang telah hancur akan menjadi unsur mineral pembentuk tanah. Dari proses diatas dapat dikatakan bahwa hal tersebut merupakan pelapukan biologi.

4. Proses Penyuburan

Pada proses terakhir ini, batuan yang telah mengalami pelapukan sudah mulai subur. Pembentukan awal tanah hanya mengandung mineral-mineral saja sehingga setelah mengalami pelapukan tanah akan menjadi bertambah subur karena terdapat materi-materi organik yang berasal dari tumbuhan dan hewan yang telah mati. Proses inilah tanah sudah terbentuk sempurna sehingga tanah sudah siap untuk di injak sehari-hari.


Demikianlah artikel tentang proses pembentukan tanah. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Selamat membaca.

Berbagai Jenis Tanah yang ada Di Indonesia

Berbagai Jenis Tanah yang ada Di Indonesia 


Berbagai jenis tanah yang ada di Indonesia. Bumi terbagi menjadi dua bagian yaitu daratan dan lautan. Daratan sendiri memiliki bentuk berupa permukaan tanah. Tanah atau dapat disebut dengan soil merupakan lapisan paling atas dari bumi ini. Di bumi ini, tanah sangat penting bagi semua makhluk hidup karena kehidupan makhluk hidup berada di atas tanah. Tanah dapat terjadi karena proses batuan yang mengalami pelapukan atau penghancuran dalam kurun waktu yang sangat lama bahkan hingga ratusan tahun. Dalam proses pelapukan batuan dibantu oleh beberapa mikroorganisme, perubahan suhu serta air. Untuk mempelajari seluk beluk tanah dibutuhkan sebuah panduan yang berupa ilmu. Ilmu yang mempelajari tentang tanah disebut dengan Pedeologi. Nah, untuk lebih jelasnya tentang tanah simaklah artikel di bawah ini hingga selesai.

Jenis-Jenis Tanah

Sebenarnya jenis tanah dari satu daerah dengan daerah lainnya memiliki kondisi yang berbeda tergantung komponen yang ada di daerah tersebut. Sehingga di bumi ini mempunyai beragam jenis tanah yang dapat dimanfaatkan makhluk hidup terutama manusia. Jenis-jenis tanah tersebut antara lain :

1. Tanah Vulkanis

Tanah vulkanis merupakan tanah yang berasal dari pelapukan batuan vulkanik. Tanah vulkanik dapat disebut dengan tanah gunung berapi sehingga banyak mengandung unsure hara yang tinggi. Tanah jenis ini sangat cocok untuk dijadikan lahan pertanian karena memiliki sifat yang sangat subur. Persebaran tanah ini terdapat di sepanjang jalur pegunungan mudah diterima dan berbentuk gunung berapi.

2. Tanah Humus

Sebenarnya tanah humus sering kita jumpai di sekitar lingkungan kita atau dapat dikatakan bahwa tanah ini adalah tanah yang selalu kita pijak setiap harinya. Tanah humus merupakan tanah yang terbentuk dari pelapukan tumbuh-tumbuhan. Tanah jenis ini memiliki warna yang gelap dengan teksturnya gembur. Tanah ini juga memiliki unsur hara dan mineral yang sangat banyak sehingga sangat cocok untuk lahan pertanian karena mempunyai sifat yang sangat subur.

3. Tanah Organosal (Tanah Gambut)

Tanah gambut merupakan tanah yang berasal dari bahan induk organik di daerah rawa. Ketebalan tanah ini kurang lebih 0,5 meter dengan warna agak gelap dan bersifat sangat asam. Kandungan haranya sangat rendah sehingga tanah ini tergolong tanah yang tidak subur dan tidak cocok jika ditanami tumbuhan.

Macam-macam tanah gambut :
1. Berdasarkan topografinya, tanah dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
  • Tanah gambut ombrogen, merupakan tanah yang selalu tergenang oleh air
  • Tanah gambut topogen, merupakan tanah depresi di dataran rendah
  • Tanah gambut pegunungan, merupakan tanah yang terbentuk di daerah pegunungan
2. Berdasarkan susunan kimiawinya, tanah dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
  • Gambut eutrof, ciri-cirinya yaitu agak asam, haranya relatif lebih tinggi, O2 lebih tinggi
  • Gambut oligotrof, ciri-cirinya yaitu sangat asam, hara rendah, O2 rendah
  • Gambut mestrof, merupakan peralihan dari eutrof dan oligotrof
4. Tanah Pasir

Tanah pasir merupakan pelapukan dari batuan pasir. Tanah pasir berbentuk butiran yang kasar dan berkerikil. Tanah jenis ini memiliki kandungan humus yang sedikit sehingga tidak cocok untuk lahan pertanian. Karena berbentuk kerikil maka tanah ini sangat cocok untuk dijadikan bahan bangunan. Persebarannya yaitu hampir seluruh wilayah Indonesia terdapat tanah pasir.

5. Tanah Liat

Tanah liat atau sering disebut dengan tanah lempung merupakan jenis tanah yang terdiri atas campuran antara aluminium dengan silikat yang mempunyai diameter tidak lebih dari 4 mikrometer. Tanah jenis ini termasuk tanah yang tidak subur sehingga tidak cocok untuk lahan pertanian. Umumnya tanah ini mempunyai warna abu-abu pekat atau hampir mengarah ke warna hitam. Tanah liat mempunyai manfaat yang sangat besar untuk kebutuhan hidup manusia yaitu tanah ini dapat digunakan untuk membuat kerajinan dan gerabah yang memiliki nilai jual tinggi. Persebarannya yaitu hampir tersebar secara merata di seluruh Indonesia, hanya yang membedakannya pada kedalaman tanah tersebut

6. Tanah Kapur

Umumnya tanah kapur berasal dari batuan kapur yang telah mengalami pelapukan. Tanah ini juga tergolong tanah yang tidak subur sehingga tidak cocok untuk lahan pertanian. Tetapi tanah kapur dapat ditanami pohon yang sangat kuat dan tahan lama seperti pohon jati dan pohon keras lainnya. Persebaran tanah kapur tersebar di daerah yang kering, misalnya di gunung kidul (Yogyakarta), dan di daerah pegunungan kapur seperti di Jawa Tengah, Jawa barat dan Nusa Tenggara Timur.

7. Tanah Litosol

Tanah litosol merupakan batuan yang bahan induknya batuan beku atau batuan sedimen. Tanah jenis ini memiliki tekstur yang beraneka ragam serta berpasir tidak berstruktur. Tanah ini juga memiliki kesuburan yang sangat bervariasi yang terdapat di daerah bertopografi berbukit, pegunungan dan kemiringan curam.

8. Tanah Aluvial

Tanah aluvial merupakan tanah endapan atau sedimentasi dari batuan aluvium yang dibawa oleh air sungai. Tanah ini mempunyai warna coklat hingga kelabu. Tanah jenis ini tergolong tanah yang subur sehingga sangat cocok untuk lahan pertanian baik untuk tanaman padi maupun palawija. Persebarannya yaitu di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua serta Jawa.

9. Tanah Podsol

Tanah podsol merupakan jenis tanah yang batuan induknya berupa batuan pasir dengan kandungan hara yang tinggi. Warna tanah podsol yaitu kuning hingga kuning keabuan  dan mempunyai tekstur pasir hingga lempung. Kesuburan tanahnya sangat rendah karena terbentuk dari curah hujan yang tinggi tetapi memiliki suhu yang rendah.

10. Tanah Andosal 

Tanah andosal merupakan tanah mineral yang berasal dari batuan induk atau tuff vulkanik yang bersifat kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah ini mempunyai warna coklat keabu-abuan. Tanah jenis ini memiliki kandungan mineral, unsur hara, dan air yang banyak sehingga sangat cocok untuk segala jenis tanaman. Umumnya persebaran tanah ini terdapat di daerah yang dekat dengan gunung berapi.

Demikianlah artikel tentang berbagai jenis tanah yang ada di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Selamat membaca.

Disqus Shortname

Ad Inside Post

Comments system